KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan segala nikmat, rahmat serta hidayah-Nya kepada pemakalah sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan
oleh Allah SWT kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai penerang hati
umat yang mengikutinya .
Makalah ini kami buat dalam rangka memenuhi tugas
mandiri mata kuliah Ulumul Qur’an guna memperdalam pengetahuan tentang mata
kuliah ini.
Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya mendapat bimbingan, arahan, koreksi, dan saran. Untuk itu rasa terima
kasih saya sampaikan kepada Bapak Wahyu Abdul Ja’far, MH. I selaku dosen mata
kuliah Ushul Fiqih dan rekan-rekan mahasiswa/i yang telah banyak memberikan masukan
untuk makalah ini.
Tentunya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
kami sangat berharap masukan dan kritik serta saran yang sifatnya membangun.
Demikianlah makalah ini kami buat semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb
Metro,13
April, 2014
Penyusun
Kelompok
A.
Asbab
An-Nuzul
Ungkapan Asbab An-Nuzul merupakan bentuk idhafah dari kata “asbab” dan “nuzul”.
Secara etimologis, Asbab An-Nuzul adalah sebab-sebab yang melatar belakangi
terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena malatarbelakangi terjadinya
sesuatu bisa disebut Asbab An-Nuzul, namun dalam pemakaiannya, ungkapan Asbab
An-Nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi
turunnya Al-Quran.
Banyak pengertian Terminologi yang dirumuskan oleh
para ulama, diantaranya:
1.
Az-Zarqani
“Asbab
An-Nuzul” adalah khusus atau sesuatu yang terjadi serta ada
hubungannya dengan turunnya ayat Al-Quran sebagai penjelas hukum pada saat
peristiwa itu terjadi.
2.
Asy-Shabuni
“Asbab
An-Nuzul” adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan
turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan
kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau
kejadian yang berkaitan dengan urusan Agama.
3.
Shubhi
Sahih
“Asbab
An-Nuzul” adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu
atau beberapa ayat Al-Quran (ayat-ayat) terkadang menyiratkan peristiwa itu,
sebagai respons atasnya. Atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum disaat
peristiwa itu terjadi.
4.
Mana’
Al-Qthathan
“Asbab
An-Nuzul” adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya
Al-Quran berkenaan dengan waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu
kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi.
Meskipun pendefinisi di atas sedikit
berbeda namun semuannya menyimpulkan bahwa Asbab An-Nuzul adalah kajian atau
peristiwa yang melatarbelakangi turunnya Al-Quran. Asbab
An-Nuzul merupakan bahan-bahan sejarah yang dapat dipakai untuk memberikan
keterangan terhadap lembaran-lembaran dan memberinya konteks dalam memahami
perintah-perintahnya. Sudah tentu bahan-bahan sejarah ini hanya melingkupi
peristiwa-peristiwa pada masa Al-Qur’an masih turun (‘ashr at-tanzil).
Bentuk-bentuk
peristiwa yang melatar belakangi turunnya Al-Qu’ran itu sangat beragam,
diantaranya berupa: konflik social, kesalahan besar, pertanyaan-pertanyaan
sahabat yang diajukan kepada nabi, baik berkaitan dengan sesuatu yang sudah
lewat, sedang, atau akan terjadi.
Persoalan apakah
seluruh ayat Al-Qur’an memiliki asbab an-nuzul atau yidak, ternyata telah
menjadi kontroversi diantara para ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak
semua ayat Al-Qu’ran memiliki asbab An-Nuzul. Sehingga, diturunkan tanpa ada
yang melatar belakanginya (ibtida’)dan ada pula, ayat al Qur’an itu diturunkan
dengan dilatar belakangi oleh suatu peristiwa (ghair ibtida).
Dalam uraian
yang lebih rinci, Az-Zarqhani mengemukakan urgensi Asbab An-Nuzul dalam
memahami Al-Quran sebagai berikut:
1.
membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidak
pastian dalam menangkap pesan ayat-ayat Al-Quran. Diantaranya dalam Al-Quran
surat Al-Baqarah ayat 115 dinyatakan bahwa itmur dan barat adalah kepunyaan
Allah.
2.
Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung
pengertian umum, yang terdapat dalam surat Al-‘Anam 145, yang artinya:
katakanlah, tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepada sesuatu yang
diharamkan bagi orang yang ingin memakainya, kecuali kalau makanan itu berupa
bangkai, darah yang mengalir, daging babi, karena semua itu kotor atau binatang
yang disembelih bukan atas nama Allah.
3.
Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat
Al-Quraan, bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab
yang bersifat kahusus (khusus as-sabab) dan bukan lafad yang bersifat umum.
4.
Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan ayat
Al-Qur’an turun yang terdapat dalam Q.S. Al-Ahqaf :17.
5.
Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat, serta
untuk memantapkan wahyu kedalam hati orang yag mendengarnya.
Pemahaman
terhadap konteks kesejarahann pra-Qur’an dan pada masa Al-Quran menjanjikan
beberapa menfaat praktis. Pertama, pemahaman
itu memudahkan kita mengidentifikasi gejala-gejala moral dan sosial pada
masyarakat arab ketika itu, sikap Al-Qur’an terhadapnya dan cara Al-Qur’an
memodifikasi atau mentransformasi gejala itu hingga sejalan dengan pandangan
dunia Al-Qur’an. Kedua, kesemuanya
ini dapat dijadikan pedoman bagi umat islam dalam mengidentifikasi dan
menangani problem-problem yang mereka hadapi. Ketiga, pemahaman tentang konteks kesajarahan pra Qur’an dan pada
masa al-Qur’an dapat menghindarkan kita dari praktik-praktik pemaksaan pra
konsep dalam penafsiran.
Adapun
cara mengetahui riwayat Asbab An- Nuzul dengan berdasarkan riwayat dan
mendengar dari mereka yang secara langsung menyaksikan pristiwa nuzul, dan
bersungguh sungguh dalam mencarinya .Dengan demikian , seperti halnya
periwayatan pada umumnya, diperlukan kehati hatian dalam menerima riwayat yang
berkaitan dengan asbab an- nuzul. Adapun para ulama salaf sangatlah keras dan
ketat dalam menerima berbagai riwayat yang berkaitan dengan asbab an- nuzul
.Keketatan mereka itu dititikberatkan pada seleksi pribadi si pembawa riwayat
(para rawi), sumber riwayat (isnad) dan redaksi berita (matan ).
B. Sejarah Turunnya Al-Quran
C. Tahap-Tahap Turunnya Al-Quran
Al- Qur’an turun
tidak secara sekaligus melainkan terdapat beberapa tahap antara lain:
1)
Tahap pertama , diturunkan dari Luuhul Mahfuudz
menurut cara dan waktu yang mengetahuinya hanya Allah dan siapa yang
diperlihatkannya akan hal- hal yang ghaib. Al – Qur’an diturunkan secara
sekaligus dan tidak terbagi- bagi. Yang demikian terlihat dalam lafalnya dan
dalil dari Al- Qur’an , karena firman- Nya:“Malahan, ia adalah Al- Qur’an yang mulia di Luuhul Mahfuuz.( Al-
Burj:21-22).”
2)
Tahap kedua , dau Luuhul Mahfuuz ke baitul izzah di
langit dunia .Berdasarkan hasil bacaan terhadap ayat- ayat Al- Qur’an yang
telah dibaca, maka dapatlah diambil
kesimpulan , bahwa ia diturunkan dalam satu malam kelangit dunia. Ia disifatkan
oleh Al- Qur’an dengan Lailati Mubaarakatin ( malam yang diberkati Allah.)
malam itu kadang kadang dinamakan malam Qadar. Kejadian itu pada bulan Ramadhan
dan diturunkan sekaligus. Diantara ayat ayat itu adalah yang artinya :“Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada
malam Qadar ( Al- Qadar:1).”“sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam
yang diberkahi (Addukhaan:2)”“Bulan Ramadhan yang telah diturnkan pada nya Al-
Qur’an (Al- Baqarah :185).”
3)
Tahap ketiga, Al- Qur’an diturunkan dari Baitul Izoh
atau langit dunia kebumi kehati para nabi dan rosul terakhir , yaitu Rosul SAW.
Ini ialah tahap terakhir yang bercahaya padanya kemanusiaan, secara keseluruhan
, bagi semua manusia dibumi. Ia dibawa oleh Jibril. Ia dinamakan Al- Amiin atau
terpercaya kedalam hati Rosul SAW berangsur angsur dalam masa dua puluh tiga
tahun, sesui dengan kebutuhan dan situasi. Termasuk dalilnya yang artinya Ialah:”Turun dengannya (Al- Qur’an) malaikat
Jibril ke dalam hatimu (Muhammad) , supaya engkau menjaddi pemberi nasehat,
dari hadirat yang maha bijaksana dan maha mengetahui. (Assyu’araak:193)”.“ Bila
seorng dari orng musyrik hendak bekerja mendapat upah dengan engkau (Muhammad),
maka terimalah dia sehingga dia dapat mendengar kalam Allah.( At- Taubah:6).”
Jibril, sebagaimana telah kami katakan, bahwa dia adalah pengantara.
Diwahyukan Allah kepadanya Al- Qur’an menurut cara yang mengetahuinya hanya
Allah saja dan siapa yang diizinkannya .sudah itu maka jibril turun dengannya
kepada rosul SAW.
4)
Dalil berupa sunah Rosul SAW antara lain yang artinya “ dari Ibnu abas dalam hadis marfuu’, bahwa
Al-Qur’an diturunkan sekaligus kelangit dunia dimalam Qadar. Sudah itu, ia
diturunkan dalam masa dua puluh tiga tahun. Sudah itu, dia membacakan ,
“Tidaklah mereka (orng kafir dan musyrik itu ) datang kepada kamu dengan suatu
perumpamaan, kecuali kami datang kepada engkau (Muhammad) dengan yang lebih
baik penafsirannya .( Al- Furqaan:33)”.”Al- Qur’an itu kami turunkan secara
berangsur angsur , supaya engakau (Muhamad) bacakan ia kepada manusia perlahan –lahan dan kami
turunkan ia sebenar benarnya atau kesemuanya. (Al- Israak:106)”.
D.
Sebab-Sebab Turunnya
Al-Quran
E.
Hikmah Turunnya Al-Quran
1.
Menetapkan atau meneguhkan hati Rosul SAW .
Ketika menyampaikan dakwah, Nabi seiring berhadapan
dengan para penentang. Turunya wahyu yang berangsur angsur itu merupakan
dorongan tersendiri bagi nabi untuk terus menyampaikan dakwahnya .Firman Allah
SWT yang artinya : “begitulah kami
(Allah) melakukannya, agar kami tetapkan hati engkau dengan nya (al-
furqaan:32)”.
2.
Menentang dan melemahkan para penentang Al-Qur’an
Nabi sering berhadapan dengan pertanyaan pertanyaan
sulit yang dilontarkan orang ornag musrik dengan tujuan melemahkan nabi.
Turunnya wahyu yang berangsur angsur itu tidak saja menjawab pertanyaan itu ,
bahkan menentang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al- Qur’an .
Dan ketika mereka tidak mampu memenuhi tantangan itu , hal itu sekaligus
merupakan salah satu mukjizat Al-Qur’an.
3.
Memudahkan untuk dihafal dan dipahami
Al- Qur’an
pertama kali turun ditengah tengah masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan
tentang bacaan dan tulisan , Turunnya wahyu secara berangsur angsur memudahkan
mereka untuk memahami dan menghaplkannya .
4.
Mengikuti setiap kejadian ( yang karenanya ayat ayat
Al- Qur’an turun ) dan melakukan penahapan dalam menurunkan penetapan hukum
syariat .
5.
Membuktikan dengan pasti bahwa Al-qur’an turun dari
Allah yang maha bijaksana .
Komentar
Posting Komentar